Foto hitam putih ini menunjukkan kamera film lama tergeletak rata di tanah dari pandangan mata burung. Permukaan bodi kamera penuh dengan goresan, kaca jendela bidik pecah bagaikan jaring laba-laba, dan lensa sedikit miring dan mengarah ke kehampaan. Kamera diletakkan di lantai beton kasar dengan retakan memanjang dari bagian bawah ke tepi bingkai, membentuk tekstur radial.Cahaya miring dari kiri atas, menghasilkan bayangan tajam pada badan logam dan mempertegas tepian bagian yang rusak - tuas rana setengah terlepas, penutup kompartemen film terbuka, dan gulungan film yang belum matang tergantung di tanah seperti usus hitam, ujungnya sedikit melengkung tertiup angin. Latar belakangnya abu-abu murni, tanpa referensi lingkungan apa pun, membuat subjek tampak melayang di luar waktu.
“Datar” berarti “datar” atau “planarisasi” dalam bahasa Indonesia, dan judulnya mengacu pada pembubaran dua dimensi dari dunia tiga dimensi melalui tindakan fotografi itu sendiri. Kamera pembohong bukan lagi sebuah alat yang menunjuk ke dunia luar, tetapi sebuah objek yang harus diamati: keadaannya yang rusak menunjukkan rapuhnya media mekanik, dan film yang belum berkembang melambangkan waktu yang beku. Ketika alat fotografi menjadi subjek gambar, karya tersebut merupakan paradoks yang merujuk pada dirinya sendiri: kita menggunakan kamera untuk menangkap realitas, tetapi keberadaan kamera itu sendiri mendekonstruksi otoritas realitas ini. Retakan, debu, dan karat tersebut bukan saja merupakan tanda-tanda pembusukan fisik, tetapi juga tuduhan diam-diam atas terkikisnya realitas pada gambar tersebut.